Beranda / Artikel / Cnnindonesia.com - BNI Asset Management Incar Rp5 Triliun dari Tax Amnesty
Cnnindonesia.com - BNI Asset Management Incar Rp5 Triliun dari Tax Amnesty
2016-07-20

BNI Asset Management Incar Rp5 Triliun dari Tax Amnesty

Jakarta, CNN Indonesia -- BNI Asset Management mengharapkan dana perolehan repatriasi pengampunan pajak (tax amnesty) membuat target dana kelolaan (Asset Under Management/AUM) BNI sebesar Rp20 triliun dapat tercapai.

Hanif Mantiq, Head of Investment BNI Asset Management menyatakan total dana kelolaan perseroan per Juni 2016 sekitar Rp15 triliun. Sehingga, dengan adanya dana repatriasi dapat membantu perusahaan manajemen investasi ini meraih dana kelolaan sebesar Rp5 triliun hingga akhir tahun.

"Target akhir tahun kami kan Rp20 triliun, jadi diharapkan dari tax amnesty bisa menambah Rp5 triliun. Untuk target khusus dana repatriasi kami tidak ada, tapi adanya target perusahaan kami," ungkap Hanif kepada CNNIndonesia.com, Selasa (19/7).

Untuk menarik investor menampung dana di BNI, lanjutnya, BNI akan mendekati perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mengeluarkan surat utang, seperti Reksa Dana Pendapatan Tetap untuk sektor riil.

"Misalnya perusahaan kontraktor seperti PT Waskita Karya, PT Pembangunan Perumahan, PT Jasa Marga. Untuk mengerjakan proyeknya kan mereka butuh pembiayaan. Untuk berutang sebenarnya kan bisa kemana-mana, perbankan atau pasar modal. Nah kami siapkan dari sisi pasar modal," paparnya.

Menurut Hanif, wajib pajak (WP) yang mengikuti kebijakan tax amnesty akan lebih menyukai perbankan. Menurutnya, investasi pasar modal merupakan pilihan kedua, sedangkan pilihan ketiga sektor riil.

"Untuk persaingannya, sebenarnya saya rasa pasti bakal disasar ke produk perbankan, jadi bank. Jadi pasar modal merupakan lapis kedua, dan lapis ketiga sektor riil. Pasar modal kan tercatat, sektor riil tidak terdaftar," jelasnya.

Kelebihan yang dimiliki BNI sendiri adalah produk reksa dana nya, khususnya pasar uang campuran, yang mendapatkan penghargaan. Dengan begitu, Hanif menyatakan, hal tersebut akan menarik di mata investor.

"Kalau reksa dana kan investor lihat performa ya," katanya.

Nantinya, BNI akan menuntun calon investornya tergantung dari profil risiko dan tujuan yang dipilih oleh investor. Jika investor lebih suka investasi dengan risiko tinggi (high risk), maka perusahaan akan merekomendasikan untuk berinvestasi reksa dana saham. Jika sebaliknya, akan diberikan rekomendasi pasar uang.

"Jadi kami hanya siapkan menunya saja, investor mau apa kami sediakan," tuturnya