Weekly Market Update BNI-AM - Ulasan Pasar Saham, Obligasi dan Pasar Uang

Senin, 13 November 2017 | 12:00

Ulasan Pasar Saham

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang minggu lalu ditutup pada level 6,021 atau turun -0.29% (WoW) dan Indeks LQ45 tercatat turun sebesar -0.44% (WoW) ke level 1,001. Sementara itu, investor asing mencatatkan total jual bersih sebesar Rp 1.9 triliun pada perdagangan minggu lalu dimana secara YTD total jual bersih investor asing tercatat sebesar Rp 25 triliun. Pelemahan IHSG didorong oleh rilisnya data GDP untuk 3Q17 sebesar 5.06% yoy yang masih dibawah ekspektasi.
Dari global. pergerakan bursa mayoritas bergerak melemah dimana indeks Dow Jones (AS) turun -0.50%, indeks FTSE 100 (inggris) turun -0.68%, sedangkan indeks Hang Seng (Hong Kong) naik 1.81%. pelemahan bursa AS antara lain dipicu oleh kemungkinan ditundanya reformasi kebijakan pajak oleh Donald Trump.
Sektor consumer discretionary (-0.85%), Energy (-0.43%) dan Telco (-1.02%) menjadi beberapa sektor yang mendasari pelemahan IHSG di minggu lalu. Kami melihat prospek dari sektor konsumsi masih cukup baik kedepannya, seiring dengan tingkat inflasi yang terkendali dan kebijakan populis pemerintah yang diperkirakan akan meningkatkan daya beli masyarakat. Kami juga melihat sektor pertambangan masih akan tumbuh dnegan baik seiring oulook harga batubara yang terus stabil
Tekanan terhadap IHSG karena angka pertumbuhan GDP yang dibawah ekpektasi akan sedikit tertahan oleh potensi pergerakan Rupiah yang lebih stabil seiring turunnya defisit transaksi berjalan, dimana defisit transaksi berjalan 3Q17 tercatat sebesar USD4,3 miliar (1,65% PDB), lebih baik dari kuartal sebelumnya yang mencapai USD4,8 miliar (1,91% PDB).

Ulasan Pasar Obligasi dan Pasar Uang

Pasar obligasi sepanjang minggu lalu mencatatkan penguatan yang tercermin pada Indonesia Composite Bond Index (ICBI) yang naik -0.33% WoW dari 236.29 ke 237.06. Tren ini didasari oleh index obligasi pemerintah (IndobexG) yang ditutup naik 0.34% WoW ke level 234.26 dari 233.47 sedangkan indeks obligasi korporasi (IndobexC) juga mengalami kenaikan sebesar 0.26% WoW ke level 247.47 dari 246.83. Menguatnya pasar obligasi sepanjang minggu masih dipiciu oleh dinominasikannya Jerome Powell sebagai Fed Chairperson dan keputusan US untuk menunda reformasi perpajakan. Dari domestic, rilis data GDP 3Q17 yang tumbuh sebesar 5.06% yoy masih berada dibawah ekspektasi dam proyeksi, namun dampak negative ini ini hanya berlangusng sesaat dikarenakan GDP masih tumbuh jika dibandingkan kuartal sebelumnya. Yield SUN 10 tahun yang tercatat naik tipisdari level 6.61% ke level 6.64%, sedangkan kepemilikan asing di SUN tercatat naik 0.81% WoW dari Rp 804.57 T menjadi Rp 811.05 T.
Kami melihat adanya kemungkinan peningkatan yield dalam jangka pendek, dikarenakan factor eksternal seperti ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate di bulan Desember 2017 dan meningkatnya spread antara SUN dan US Treasury 10 tahun. Namun, potensi kenaikan yield yang signifikan di pasar surat utang Indonesia diperkirakan dapat dibatasi oleh turunnya defisit transaksi berjalan.
Special rate bulanan deposito di akhir oktober dan November cenderung flat setelah dari awal tahun mencatatkan tren menurun yang disebabkan oleh turunnya 7 days reverse repo rate. Special rate bulanan deposito di awal tahun untuk bank BUKU II dan BUKU III di periode bulan Oktober 2017 rentang special rate untuk kategori yang sama berada antara 6.25%-7.50%. Data industri perbankan menunjukkan pertumbuhan time deposit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan loan, sehingga hal tersebut memicu kelebihan likuiditas pada bank yang menyebabkan cenderung turunnya rate deposito.



* Return produk termasuk dividen


Sebelum melakukan investasi di Reksa Dana, Investor harus membaca dan memahami prospektus dana, khususnya di bagian Manajer Investasi. Investasi Reksa Dana mengandung risiko. Kinerja masa lalu tidak menunjukkan kinerja masa depan.
GRUP BNI