PUBLIKASI

Dapatkan informasi/berita terbaru tentang kami

Dirut BNI-AM, Reita Farianti : Bidik AUM Naik 35 Persen, Saatnya Reksadana Saham

Kamis, 9 Januari 2020 | 12:00

Bareksa.com - PT BNI Asset Management, meluncurkan reksadana exchange traded fund (ETF) bertema lingkungan, sosial dan tata kelola perusahaan yang baik (environment, social & governance/ESG). Reksadana itu bernama Reksa Dana BNI-AM ETF MSCI ESG Leaders Indonesia (XBES) yang dicatatkan dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia pada hari ini (9/1/2020).

Direktur Utama BNI-AM, Reita Farianti menyatakan penerbitan reksadana ini searah dengan perkembangan tren industri investasi awal tahun ini. Saat ini tren investasi pada perusahaan yang peduli lingkungan, memiliki dampak sosial serta tata kelola yang baik. "Dengan mempertimbangkan ketiga aspek tersebut, investor memperoleh portofolio emiten yang memiliki kualitas fundamental yang baik dan mencatatkan kinerja investasi yang baik," ujarnya usai peluncuran di BEI (9/1/2020).

Menurut Reita, reksadana ETF ini merupakan yang kedua diterbitkan oleh BNI-AM setelah pada 2018 lalu perseroan menerbitkan Reksa Dana BNI-AM Nusantara ETF MSCI Indonesia Equity Index (XBNI). Adapun XBES tercatat sebagai reksadana ETF yang ke-39 di Bursa Efek Indonesia. "Pada 2020 ini, BNI-AM mempelopori pencatatan dan perdagangan ETF pertama di 2020," ungkapnya.

Langkah BNI AM merilis produk yang menekankan faktor lingkungan, sosial dan tata kelola yang baik bukan tanpa alasan. Apalagi dalam beberapa waktu terakhir, industri manajemen investasi Tanah Air dihantam beberapa isu kurang sedap. Terakhir, perihal kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya yang ditengarai melibatkan 13 manajer investasi. Kasus Jiwasraya saat ini dalam penyelidikan Kejaksaan, Badan Pemeriksa Keuangan, bahkan hingga Bareskrim Polri terkait perusahaan-perusahaan yang terlibat di dalamnya.


Sumber : Bareksa

Apa alasan BNI-AM merilis reksadana ETF ESG, bagaimana target dana kelolaan, serta bagaimana prospek bisnis reksadana perseroan? Berikut petikan wawancara Direktur Utama BNI-AM, Reita Farianti Reita Farianti dengan wartawan di BEI, Jakarta (9/1/2020) :

Mengapa BNI-AM merilis Reksa Dana BNI-AM ETF MSCI ESG Leaders Indonesia (XBES) ini?

Jadi sebenarnya ini adalah kali kedua, setelah pertengahan 2018 lalu kami sudah meluncurkan ETF yang bernama Reksa Dana BNI-AM Nusantara ETF MSCI Indonesia Equity Index (XBNI). Ini adalah indeks MSCI global tetapi yang konstituen atau perusahaan-perusahaan yang listing di Indonesia. Dia temanya general. Lebih menggunakan rasio-rasio keuangan dalam menseleksi konstituen dalam indeks MSCI tersebut. Di pertengahan 2018, sampai dengan akhir tahun kemarin kita berhasil mengumpulkan dana kelolaan Rp1 triliun, baru kita berani listing yang kedua dan kita ambil tema yang berbeda.

Kalau kemarin kan temanya general, yang saat ini temanya mengemukaan the best in class companies dalam perspektif ESG, hasil risetnya MSCI global untuk perusahaan-perusahaan di Indonesia. Karena memang best in class company, makanya oleh MSCI dikasih nama indeks ini MSCI ESG Leaders Indonesia karena expected to be leader dalam perspektif ESG.

Kenapa kami merilis ini? Karena kita berfikir tren investasi global dan nasional pada akhirnya kita percaya, perusahaan-perusahaan sebagai konstituen yang kita cermati berhasil dan berpotensi memberikan yield tinggi dalam jangka panjang, konsisten pertumbuhannya, bisa rutin memberikan dividen, itu ternyata adalah perusahaan-perusahaan yang menerapkan manajemen ESG yang baik. Kalau di lokal kita tahu ada Sri Kehati, globalnya itu adalah MSCI ESG Leaders karena ini Indonesia jadi MSCI ESG Leaders Indonesia.

Bagaimana cara indeks ini memilih portofolionya?

Cara mereka melakukan screening tentu metodologinya berbeda-beda. Mungkin kalau indeks ESG lokal lebih mengutamakan kepada hasil quesioner, kemudian company visit. Tapi kalau MSCI global memang mereka punya reputasi dan nama lebih dari 40 tahun, yang mengkhususkan diri untuk melakukan riset pada perusahaan yang berperspektif ESG. Baru kemudian turun pada peratingan. Kalau indeks lokal, tidak menggunakan rating. Namun kalau MSCI menggunakan rating, mulai triple A sampai dengan double B. Untuk yang ini MSCI ESG Leaders Indonesia.kita minimal rating BB ke atas. Ada 17 partisipan saat ini, memang lebih banyak Kehati ada sekitar 30-an partisipan. Tetapi kalau kita mengambil 1 atau 3 tahun terakhir, di dalam situasi yang bearish semua yang ESG indeks out perform dari JCI dan JII. Di situasi yang bullish mereka juga out perform JCI dan JII.

Jadi intinya adalah penerapan manajemen ESG tentu memproyeksikan kemampuan perusahaan itu dalam melakukan penerapan ramah lingkungan. Kalau sudah menerapkan ramah lingkungan, kalau ditarik dari sisi keuangan, begitu banyak pemerintah Indonesia melakukan support dan stimulus seperti tax export importnyapajak badan bagi perusahaan yang menerapkan ESG sehingga berdampak ke laporan keuangan. Itu baru dari sisi environmental. Kalau dari sisi social, diharapkan perusahaan-perusahaan ini memiliki leadership yang berakhlakIni yang selalu menjadi omongan akhir-akhir ini setelah gonjang-ganjing investasi beberapa waktu terakhir. Kemudian governance, berarti mereka melakukan tata kelola yang baik (GCG). Jadi huruf ESG ini memang benar-benar mengindikasikan pertumbuhan perusahaan, memberikan implikasi, dan sumber daya pengelolaannya baik karena mereka memiliki social responsibility yang tinggi nggak mau mencederai investor, serta menerapakan GCG.

Target dana kelolaan dari produk ini berapa?

Rasanya kita sudah sukses dengan yang kita luncurkan di pertengahan 2018 Rp1 triliun, ya dalam jangka waktu 1,5 tahun lagi ini kami mengharapkan dana kelolaan Rp1 triliun juga untuk yang ESG ini. 

Akan menerbitkan berapa banyak produk ETF?

Sementara tahun ini 1, sehingga ditambah yang 2018 jadi 2 ETF. Karena kami memiliki strategi di setiap produk ETF itu kita bikinnya repot, lama dan susah, jadi jangan dana kelolaannya kecil. 

Terkait gonjang-ganjing investasi beberapa waktu terakhir, apakah ada strategi investasi BNI-AM dalam portofolionya?

Betul adanya saham bodong dan lainnya. Sehingga shifting appetite memang terjadi, investor yang tercederai baik institusi maupun ritel yang membeli melalui platform online juga kena minusnya lebih dari 50 persen. Memang ini situasinya sedang seperti ini. Maka BNI-AM mencoba mengawali tahun ini dengan merilis reksadana ETF ESG ini, meskipun sebenarnya produk ini sudah ready sejak tahun lalu, namun kita mencoba memberikan suasana baru di awal tahun 2020 dengan merilis produk ini. Ini adalah salah satu program PBB yaitu principal investment responsibility, artinya harapan itu masih ada untuk investor mendapatkan pengembalian off sett dari kerugian yang kemarin, dan berpotensi teroffsett dengan produk-produk yang GCG ini. 

Kebetulan BNI-AM reksadana sahamnya tidak terpengaruh. Kebetulan AUM reksadana saham juga tidak turun. Jadi kebetulan di 2019, heavy selling kami di reksadana pasar uang, beberapa reksadana terproteksi, fixed income dan indeks fund dan ETF yaitu IDX30 dan XBNI. Jadi memang produk yang kami luncurkan di awal 2019, reksadana agresif BNI-AM Mahogany itupun kebetulan mencatatkan return lebih baik dibandingkan benchmark.

Jadi 1 tahun membangun kepercayaan ini rupanya berhasil, sehingga mudah-mudahan dengan belajar dari gojang-ganjing investasi kemarin, mudah-mudahan di awal 2020 ini menjadi sesuatu yang lebih memberi harapan buat investor yang kemarin kena hit untuk memilih yang lebih prudent

Berapa total AUM BNI-AM 2019 dan berapa target 2020?

Kalau 2019 dibandingkan 2018 total AUM kita berhasil tumbuh sekitar 35 persen, maka di 2020 kita ingin mengulangi AUM bisa tumbuh 35 persen. AUM BNI-AM dari Rp16,09 triliun di 2018 naik menjadi Rp21.37 triliun pada akhir Desember 2019. Dan rata-rata pertumbuhan industri di 2019 hanya 10 persen. Jadi AUM kita tiga kali dari rata-rata.

Mudah-mudahan tahun ini dengan tone yang kita anggap lebih kondusif dari 2019, meskipun kita tetap harus hati-hati, sampai dengan trade deal fase I antara AS dengan China benar-benar diterapkan, begitu banyak stimulus, ada pajak badan dalam omnibus law misalnya oleh pemerintah diimplementasikan tahun ini, momok negatif tentang current account deficit (CAD) mudah-mudahan bisa teratasi.

Dan ini menjadi titik mula untuk harapan baru di 2020, kalau ditanya aset alokasi sebaiknya ke mana? Kalau kita bicara fixed income rasanya sudah sisa-sisa 2019. Jadi sebaiknya Anda mulai di reksadana saham.

Kenapa justru sekarang mulai dari reksadana saham?

Kalaupun masih mau di fixed income silakan, tapi menikmati sisa pestanya sudah tinggal sedikit karena sudah banyak di 2019. Kenapa? Karena 2 tahun saham nggak kemana-mana, maka sekaranglah waktunya.

Bagaimana proyeksi BNI-AM atas IHSG tahun ini?

Kami memiliki beberapa skenario yakni agresif, moderat dan konservatif. Untuk skenario agresif atau bullish pada tahun ini kami perkirakan IHSG bisa tembus 7.433 dengan asumsi pertumbuhan earning per share (EPS) 10 persen dengan valuasi pada rata-rata PE 5 tahun (16,2x).

Untuk skenario moderat kami perkirakan IHSG di 6.960 dengan asumsi EPS growth 10 persen dan valuasi (15x), serta skenario bearish atau konservatif IHSG 6.032 dengan asumsi EPS growth 10 persen dan valuasi (13,9x). 

Bagaimana proyeksi pertumbuhan ekonomi dan inflasi di 2020?

Realisasi pertumbuhan PDB pada 2019 kami perkirakan 5 persen dan 2020 jadi 5,1 persen karena melambatnya permintaan. Untuk inflasi kami perkirakan 3,3 persen di 2019 dan 3,2-3,5 persen di 2020 karena basis harga yang rendah dan tidak ada penyesuaian harga bahan bakar minyak.

Kenaikan cukai rokok dan pencabutan subsidi listrik mungkin akan mempengaruhi kenaikan inflasi. Serta risiko musim kering nanti yang akan berdampak pada inflasi pangan.

Sepanjang 2019 sudah berapa produk baru yang diluncurkan BNI-AM?

Reksadana terproteksi ada 7-8 kali, pasar uang 3 kali, 1 reksadana saham dan 1 RDPT.

Bagaimana strategi perseroan untuk mencapai target kinerja di 2020?

Kami akan mengandalkan produk open end basis, seperti reksadana money market, fixed income, saham, terproteksi, indeks fund kita. Kami juga memiliki produk RDPT serta ETF yang cukup menarik bagi investor. Kami melihat pertumbuhan kami yang cukup baik didorong oleh berbagai varian produk yang kami tawarkan.

Kami mencoba mengcater kebutuhan nasabah lewat produk-produk yang cukup bervariasi. Selain itu, kinerja produk-produk kami juga cukup baik di tahun 2019, di mana kami berhasil mengalahkan indeks acuan untuk produk saham, fixed income, maupun money market.

Bagaimana prospek pasar produk ETF tahun ini?

ETF adalah satu-satunya di 2019 yang menolong institusi-institusi besar untuk bisa profit taking, salah satunya perusahaan asuransi. Jadi dari situ saja mereka bisa profit taking keluar dari perangkap reksadana saham, hanya dari ETF. Kemungkinan pada 2020 ini, ETF masih akan menjadi favorit.

Bagaimana dampak kasus seperti Jiwasraya hingga Asabri beberapa waktu terakhir terhadap kinerja BNI-AM?

BNI-AM tidak ada kerja sama dengan Jiwasraya maupun Asabri. Rasanya dampaknya tidak akan langsung dirasakan oleh kami. Kami lebih akan merasakan dampaknya secara tidak langsung bahwa ke depan dalam melakukan proses penjualan harus lebih hati-hati, harus lebih mengemukakan internal proses investasi di BNI-AM sebagai pembuka.

Jadi kalau dulu trennya orang kalau berjualan menyebutkan returnnya berapa, maka sekarang sudah tidak bisa lagi dengan gaya-gaya seperti itu. Jadi yang paling benar adalah pemenuhan kebutuhan dari klien, nah itu dulu yang kita gali.

Jadi neednya apa jika 2019 uncertainty, jadi neednya lebih kepada money market. Batasannya seperti apa, apakah di deposito di bawah 1 tahun atau bagaimana, lah ini kami lakukanLalu kami buatkan dan penuhi kebutuhan itu, nah inilah semua yang menghasilkan kepercayaan itu bertambah.

 

GRUP PERUSAHAAN